Kesenian Tradisional Reog Yogyakarta
Kata
“reog” berasal dari kata rog (menggoyah), artinya sama juga dengan erog, herog,
rog – rog asem(jawa). Yeg (jawa) atau riyeg (jawa) dari kata yod atau reyod yang
kesemuanya mengandung makna rusak, goyah, goncang, atau tidak tenang. Dari kata
tersebut yang nantinya jadi kata reog atau reog yang dasarnya memiliki
pengertian yang sama, (Kayam, Umar. 1981. Seni, Tradisi, Masyarakat.
Jakarta: Sinar Harapan, 1981: 63).
Arti kata Reog tidak ada terjemahannya, baik
dalam kamus bahasa Indonesia, Sansekerta, ataupun Jawa Kuno/Kawi, sehingga yang
dimaksud dengan Reog adalah kesenian rakyat yang berbentuk tarian dan diiringi
gamelan Jawa kemudian ditarikan beramai-ramai dan memiliki fungsi awal dari
kesenian ini sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap penguasa dan juga
hiburan bagi rakyat.
Secara umum mendengar kata Reog yang terbayang adalah reog
ponorogo, namun untuk di wilayah Yogyakarta khusunya Bantul yang dimaksud Reog
adalah Reog wayang, kecuali menyebut kata Reog lengkap menjadi Reog Ponorogo
baru pikiranya ke arah Reog Ponorogo. Hal yang membedakan keduanya adalah tema
cerita yang diangkat dalam pementasannya.
Reog Ponorogo biasanya menggambarkan cerita perjalanan Prabu
Klana Sewandana dari kraton Bantar Angin. Namun dalam pertunjukan Reog Wayang
cerita yang diangkat diambil dari kisah Mahabarata dan Ramayana. Para penaripun
tidak mengenakan kostum warok, tetapi menggunakan pakaian tari layaknya yang
biasa dikenakan dalam pementasan wayang orang. Sehingga yang nampak adalah
perpaduan antara kesenian reog dan sendratari mahabarata/Ramayana. Adanya unsur
cerita dari Mahabarata dan Ramayana nampak kuat melekat dari para tokoh yang
ditampilkan. Ini terlihat adanya tokoh Hanoman, Hanila, Anggada, Suteja,
Setyaki, Kumbakarna dan tokoh-tokoh lainnya. Dalam pementasan reog menggambarkan
dua pasukan yang saling berhadapan sebagai bentuk gambaran peperangan antara
kebajikan dan keangkaramurkaan. Dimana dua sisi tersebut selalu menghampiri
dalam setiap kehidupan manusia. Namun apabila seseorang selalu berpegang teguh
pada kebenaran dan kebajikan tentu akan mengalami kejayaan.
Perbedaan lainnya adalah pada reog ponorogo hanya diperankan
oleh beberapa orang dan mengedepankan atraksi atraksi sejenis sulapan seperti
makan beling bermain api dsb. Sedang utuk reog wayang lebih memperlihatkan seni
menarinya yang terkadang juga di bumbui oleh sedikit kemistisan dengan
kesurupannya para pemainnya.Seni tradisi Reog merupakan tradisi turun temurun.
Kesenian tradisional Reog wayang orang di Yogyakarta ini
telah hidup sejak beberapa puluhan tahun yang lalu. Reog Wayang ini banyak di
kenal dan sangat populer di daerah Bantul,
Yogyakarta bagian selatan seperti kecamatan Srandakan, Sanden, Bambanglipuro, Pandak dan beberapa
daerah lainnya. Dalam Reog Wayang biasanya dimainkan oleh lebih dari 20 penari,
dimana setiap penari memerankan masing – masing tokoh dalam cerita tersebut.
Penari reog
wayang terbagi menjadi 2 barisan memanjang ke belakang, dimana barisan yang
satu adalah tokoh tokoh baik (pandawa) dan barisan satunya adalah tokoh jahat
(kurawa). Urutan dari kedua barisan tersebut yang paling depan adalah Lembatak tokoh
Lembatak ini bukanlah tokoh dalam cerita pewayangan, namun tokoh Lembatak
merupakan kesatria berpedang yang berpakaian prajurit keraton. Urutan
dibelakangnya adalah penurung yang biasanya membawa bendera simbul dari
paguyuban reog tertentu, urutan dibelakangnya Alusan (tokoh kesatria),kemudian Kethek
(pasukan kera) dan Buto
(raksasa). Setiap kelompok tersebut memiliki gerakan yang berbeda – beda. Pada
penari Alusan, penari menari dengan gerakan yang halus dan lembut. Penari
Kethek menari dengan gerakan yang lincah dan atraktif. Dan untuk penari Buto
menari dengan gerakan yang kasar dan bringas. Selain itu juga terdapat tokoh
lain seperti Punokawan. Untuk.
Setiap tokoh yang di perankan dalam Reog Wayang ini memiliki ciri khas dalam
gerakannya.
Penampilan Reog
Wayang diawali dengan sembahan, yaitu penghormatan kepada leluhur, pemilik hajat
dan penonton. Kemudian dilanjutkan dengan menari berbaris. Dalam menari
berbaris ini setiap penari menari dengan gerakan yang berbeda – beda sesuai
dengan gerakan tokoh yang di perankannya. Pada akhir babak ini, dua barisan
tersebut terpisah menjadi dua kelompok dan saling berhadapan setiap kelompoknya
seperti akan memulai peperangan, kemudian dilanjutkan dengan perang individu.
Perang individu
ini penari berperang satu persatu. Bagian ini lah yang paling menarik pada
pertunjukan Reog Wayang, karena setiap penari menunjukan keahliannya dalam
menarikan dan memerankan tokoh masing – masing. Dalam perang ini diawali dengan
perang Lembatak, kemudian dilanjutkan perang sesuai dengan permintaan yang
punya hajat. Salah satu yang menarik dan sering diminta pada perang ini adalah
perang Arjuna dan Cakil dan biasanya Cakil didampingi beberapa
Buto pendamping, karena gerakan perang kedua tokoh ini terbilang sulit
dan sangat atraktif. Gerakan yang lembut dari Arjuna dan gerakan lincah
atraktif dari Cakil serta gerakan buto pendamping yang kasar memiliki nilai
seni tersendiri. Selain itu perang Kethek
dan Buto juga sangat menarik,
karena gerakan Kethek yang lincah sering memberikan pertunjukan atraktif juga.
Di Setiap
kelompok kesenian Reog Wayang biasanya memiliki kreasi dalam menampilkan dan
ciri khas tersendiri, terutama dalam gerakan maupun penambahan adegan dalam
perang. Dalam pertunjukannya penari menari dengan iringan instrumen musik
seperti bende, dodog, dan kepyek ada juga beberapa yang berkreasi
dengan drum serta beberapa perangkat gamelan (biasanya demong dan saron serta
kendang) dimana iringan musik gamelan ini di sesuaikan dengan tarian yang
dipertunjukan. Salah satu instrumen yang paling penting adalah dodog, dodog merupakan alat musik
seperti bedug namun ukurannya lebih kecil. Suara dodog ini yang menjadi acuan
para penari dalam mengambil gerakannya. Sehingga membuat gerakannya terlihat
padu dan dinamis namun ada juga beberapa kelompok yang memakai bende untuk
mengatur gerakannya.
Selain dengan
iringan musik, Reog Wayang juga di iringi dengan lantunan tembang jawa yang
berisi tentang cerita pewayangan dan nasehat yang ada didalamnya. Dalam iringan
ini biasanya dilakukan oleh dua orang yaitu Penthul dan Bejer dan sekaligus menjadi
dalang dalam mengambil cerita pementasannya. Pada saat babak sembahan,
pengiring ini membuka acara dengan salam pembuka dan penghormatan kepada
penonton, pemilik hajat dan leluhur. Pada saat menari baris, pengiring ini
menyayikan tembang yang berisi tentang cerita wayang yang diangkat dan nasehat
yang ada di dalamnya. Kemudian pada saat perang, salah satu pengiring
menyanyikan tembang dan satunya sebagai pengisi suara pada tokoh wayang yang
menari agar pertunjukan terlihat lebih hidup.
Kostum yang di
gunakan dalam reog ini hampir sama dengan kostum Wayang orang gaya Yogyakarta. Namun untuk penataan kostum dibuat
lebih sederhana agar lebih leluasa dalam bergerak. Untuk beberapa tokoh seperti
Buto dan Kethek biasanya di lengkapi dengan gelang kelinthing pada kakinya, karena gerakannya yang lincah
sehingga saat menari atau menghentakkan kaki akan memberikan suara yang indah
saat dipadukan dengan iringan musik lainnya. Selain itu penari juga di lengkapi
dengan properti senjata sesuai dengan tokoh masing masing. Untuk tata rias
hampir sama dengan wayang wong, namun menggunakan bahan rias khusus agar tidak
mudah luntur karena keringat.
Reog Wayang ini
awalnya hanya di tampilkan dari rumah ke rumah (Mbarang-jawa). Namun seiring
dengan perkembangan dan managemen pementasan, sebelum melakukan pementasan pemilik
rumah (penanggap) sudah memesan
dahulu sehingga dalam satu hari
pertunjukan biasanya kelompok Reog Wayang ini sudah memilik daftar tempat mana
saja yang harus di kunjungi dan perang apa saja yang akan di tampilkan. Namun
ada juga Reog Wayang ini dipentasan di satu tempat. Format pementasan pun lebih
lama dan perangnya pun lebih banyak. Disamping itu untuk di Kabupaten Bantul
karena begitu besar perhatian pemerintah daerah dalam melestarikan budaya, maka
tidak jarang diadakan lomba dengan berbagai kriteria yang tujuan akhirnya
adalah supaya kesenian tradisional reog wayang yang hanya dijumpai di wilayah
bantul ini berkembang dengan baik dan tidak punah.
0 komentar:
Posting Komentar